Giwo Rubianto Online

Dr. Ir. Hj. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd.

Profil · Ibu Bangsa Indonesia

Giwo Rubianto Wiyogo: Merawat Indonesia dari Ruang Keluarga hingga Panggung Dunia

Dari mimbar Kongres Wanita Indonesia hingga kursi Wakil Presiden Dewan Perempuan Internasional — perjalanan tiga dekade seorang perempuan yang memilih menjadi "Ibu Bangsa".


Dr. Ir. Hj. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd. — Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2014–2024

Ada orang yang mengejar jabatan, dan ada yang jabatannya mengejar dirinya karena rekam jejak yang tak pernah berhenti bergerak. Dr. Ir. Hj. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., termasuk golongan kedua.

Selama lebih dari tiga dekade, namanya melekat pada hampir setiap babak penting perjuangan perempuan Indonesia — dari meja Komisi Perlindungan Anak, mimbar Kongres Wanita Indonesia, hingga forum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan kursi wakil presiden organisasi perempuan tertua di dunia.

Giwo Rubianto Wiyogo menyampaikan pidato inspiratif
"Inspirasi paling kuat bukan hanya berasal dari teori maupun kata-kata, tetapi dari contoh nyata dalam kerja sosial. Keberanian bersuara dan keteguhan nilai menjadi energi inspiratif untuk memberi ruang dan menumbuhkan kepercayaan." — Dr. Ir. Giwo Rubianto, M.Pd.

Namun ia lebih suka disapa dengan satu kata sederhana: Giwo — nama panggilan yang menyimpan cerita panjang tentang siapa dirinya sebenarnya.

Asal Sebuah Nama


Sri Woerjaningsih — begitu nama yang tercantum di akta kelahirannya, lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 8 Mei 1962. Ia adalah putri kedua dari empat bersaudara, anak pasangan (Alm.) H.R. Wirjatmo dan (Almh.) Hj. R. Tjahjaningsih. Sang ayah adalah anggota kepolisian di masa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) masih menyatukan TNI dan Polri, dan dari sanalah kedisiplinan serta rasa tanggung jawab ditanamkan sejak Giwo kecil.

Nama panggilan "Giwo" sendiri punya asal-usul yang khas: potongan dari kata depan "Woerjaningsih", yang lantas melekat karena semasa kecil ia kerap memperlihatkan gigi barunya yang tumbuh. Panggilan kecil itu kemudian jauh lebih dikenal publik ketimbang nama aslinya, apalagi setelah "Rubianto Wiyogo" — gabungan nama suami (Rubianto) dan mertuanya (Wiyogo) — melekat di belakangnya.

Giwo kecil bersama keluarga
Giwo kecil tumbuh dalam keluarga yang hangat dan bahagia, pengalaman yang membentuk kepeduliannya terhadap kesejahteraan anak-anak.

Dari Panggung Peragaan hingga Bangku Arsitektur


Jejak Giwo di dunia publik sebenarnya dimulai jauh sebelum ia dikenal sebagai aktivis. Semasa bersekolah di SMU 70 Bulungan, Jakarta Selatan, ia aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), sembari merambah dunia modeling sebagai peragawati dan foto model. Pada 1981, ia bahkan menyabet gelar juara dalam sebuah kontes kecantikan bertajuk "Putri Ayu".

Jenjang kuliahnya dimulai di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta/UNJ), jurusan Tata Busana. Namun di tengah penyusunan skripsi, ia justru mengambil kuliah kedua di Fakultas Arsitektur Lansekap, Universitas Trisakti — kombinasi tak biasa yang kelak ia jadikan metafora hidupnya: masyarakat sebagai taman besar yang perlu dirancang dengan harmoni sekaligus dididik dengan hati. Kedua gelar sarjana itu ia rampungkan pada 1985 dan 1989, meski sudah menikah di usia 22 tahun.

Semangat belajarnya tak pernah padam. Ia melanjutkan pendidikan magister manajemen pendidikan di Universitas Negeri Jakarta dan lulus pada 2009. Lima tahun berselang, tepatnya pada 5 Mei 2014, ia meraih gelar doktor (S3) dari kampus dan jurusan yang sama, dengan disertasi berjudul "Pengaruh Etika Korporasi, Daya Saing dan Komitmen Organisasi Terhadap Kualitas Pelayanan Karyawan Bumi Satu Group" — topik yang menyatukan dua dunia yang ia geluti sekaligus: bisnis keluarga dan ilmu manajemen.

Rumah Tangga dan Bisnis Keluarga


Di usia 22 tahun, Giwo dipersunting Ir. Rubianto Wiyogo, menantu dari mantan Gubernur DKI Jakarta (1987–1992) Wiyogo Atmodarminto. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai empat putra: Ato Wurianto, Agi Wibianto, Adito Wirbianto, dan si bungsu Ardi Amandianto. Giwo kerap menyebut keluarganya sebagai "laboratorium kasih" — ruang kecil yang menjadi sumber energinya untuk melayani masyarakat luas. Bersama sang suami, Giwo mendirikan dan membesarkan PT Bumi Satu Group, perusahaan yang tercatat sebagai kontraktor sejumlah proyek properti di Jabodetabek dan Bali — mulai dari kawasan hunian di Lebak Bulus, apartemen di Permata Hijau dan Menteng, resor di Ubud (Gianyar), perumahan di Serang (Banten), hingga sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Tiga Dekade di Garis Depan Perjuangan Perempuan


Rekam jejak organisasi Giwo terbentang panjang. Sejak 1995, ia menjadi Ketua Pelaksana Harian DPP ISIKKI-IHEA (Ikatan Sarjana Ilmu Kesejahteraan Keluarga Indonesia). Pada 1994, ia menjabat Wakil Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DPD DKI Jakarta, sebelum masuk ke jajaran Kowani sebagai Ketua Bidang Ekonomi, Koperasi, dan Ketenagakerjaan pada 1999.

Tahun 2000, ia mendirikan dan memimpin Gerakan Wanita Sejahtera (GWS), organisasi yang masih ia pimpin hingga kini. Pada 2004, ia dipercaya menjadi Ketua pertama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk periode 2004–2007 — lembaga independen bentukan pemerintah yang mengawal pelaksanaan perlindungan anak di seluruh Indonesia, dan yang membuat wajahnya kerap menghiasi pemberitaan setiap kali ada kasus kekerasan terhadap anak. Di jalur politik, ia sempat menjabat Wakil Ketua Umum I Pimpinan Pusat Kesatuan Perempuan Partai Golkar (PP KPPG) periode 2009–2015.

Puncak kiprah organisasinya terjadi pada 2014, saat ia terpilih sebagai Ketua Umum Kowani — federasi yang menaungi lebih dari seratus organisasi perempuan di seluruh Indonesia. Kepemimpinannya berlanjut lima tahun kemudian: dalam Kongres ke-25 Kowani di Jakarta pada 4 Desember 2019, Giwo terpilih kembali secara meyakinkan dengan meraih 441 suara, mengungguli rivalnya, Ony Ja'far Hafsah, yang memperoleh 254 suara. Praktis, ia memimpin Kowani selama dua periode penuh, 2014–2019 dan 2019–2024. Sepanjang masa jabatan itu, ia dan jajaran pengurus Kowani berkali-kali beraudiensi dengan para pejabat tinggi negara — termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla — menjelang peringatan hari ulang tahun organisasi maupun Hari Ibu.

Ketua Umum Kowani bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla
Ketua Umum Kowani Dr. Giwo Rubianto Wiyogo bersama pengurus berfoto dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla usai audiensi. Sumber: wanitamedan.com

Selain di Kowani, Giwo juga memimpin Pita Putih Indonesia atau White Ribbon Alliance Indonesia (Ketua Umum sejak 2015) — organisasi yang fokus pada isu kesehatan ibu dan bayi, yang tahun ini genap berusia 27 tahun dan tengah menempuh proses menjadi anggota langsung UN ECOSOC — serta pernah menakhodai Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat periode 2017–2022. Kini ia juga menjabat Presiden Federasi Business and Professional Women (BPW) Indonesia. Total, ia tercatat pernah aktif di lebih dari 30 organisasi di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, politik, hingga kesejahteraan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Panggung Internasional


Di kancah global, jejak Giwo sama panjangnya. Kowani di bawah kepemimpinannya menegaskan posisi sebagai organisasi yang telah menyandang status konsultatif khusus di Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) sejak 1998, inisiator berdirinya ASEAN Confederation of Women's Organizations (ACWO) sejak 1981, sekaligus anggota International Council of Women (ICW) — organisasi hak perempuan internasional tertua di dunia yang berdiri sejak 1888.

Hubungan baiknya di tingkat internasional membuahkan hasil konkret: pada Mei 2022 di Prancis, Giwo terpilih sebagai Wakil Presiden (Vice President) International Council of Women, jabatan yang tercatat resmi di situs organisasi tersebut dan masih ia sandang hingga sekarang. Ia juga tercatat sebagai kepala delegasi Indonesia dalam presidensi Women20 (W20) — kelompok keterlibatan resmi G20 — pada rangkaian W20 Indonesia 2022 yang berpuncak di Bali, termasuk pada Summit Meeting 13 November 2022 saat Indonesia menyerahkan estafet kepemimpinan W20 kepada India.

Keterlibatannya di forum-forum PBB itu sudah terjalin sejak lebih awal. Pada 2018, ia memimpin delegasi Kowani pada sesi ke-62 Commission on the Status of Women (CSW) di Markas Besar PBB, New York — wujud komitmen Indonesia mendorong pemberdayaan perempuan dan anak di tingkat global. Kiprah itu berlanjut hingga sesi ke-67, ke-68, dan ke-69: ia memberikan sambutan pembuka mewakili Kowani pada CSW67 (2023), memimpin delegasi Indonesia pada CSW68 (2024), serta menghadiri berbagai side-event pada CSW69 (Maret 2025).

Delegasi Kowani pada Sidang CSW ke-62 di Markas Besar PBB New York
Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo memimpin delegasi Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada Sidang Commission on the Status of Women (CSW) ke-62 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, sebagai wujud komitmen Indonesia dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan anak di tingkat global. Sumber: lydiafreyanihawadi.com

Memperjuangkan Undang-Undang yang Tak Kunjung Selesai


Salah satu babak paling panjang dalam kiprah Giwo adalah perjuangannya mengawal dua rancangan undang-undang krusial: RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT). Sejak digulirkan pada 2012, kedua RUU ini berkali-kali mandek di meja legislasi, terganjal pandangan sebagian pihak yang masih memandang kekerasan dalam rumah tangga sebagai "urusan privat". Melalui Kowani, Giwo dikenal konsisten menggerakkan strategi akar rumput untuk mendesak pengesahan kedua beleid tersebut, sekaligus menyuarakan penolakan terhadap perkawinan anak yang menurutnya masih marak terjadi di berbagai daerah.

"Indonesian women have an existing concept of the nation's mother since 1953 — there is only ibu bangsa, the nation's mother."

Giwo Rubianto Wiyogo, dalam Sidang Umum ICW ke-35 di Yogyakarta, September 2018

Ia juga dikenal kritis terhadap pelabelan sosial yang menurutnya mereduksi peran perempuan Indonesia — menegaskan bahwa sebutan yang tepat, sejak konsep itu ada sejak 1953, adalah "Ibu Bangsa", bukan istilah populer "emak-emak".

Pengakuan Negara


Dedikasi panjang itu berbuah penghargaan tertinggi dari negara. Pada 14 Agustus 2024, di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menganugerahkan Bintang Mahaputera Nararya kepada Giwo Rubianto Wiyogo — satu dari 64 tokoh nasional yang menerima tanda kehormatan pada tahun itu, bersanding dengan sejumlah menteri, pimpinan lembaga negara, dan seniman. Penghargaan ini menambah panjang daftar apresiasi yang ia terima; sejak awal kariernya di organisasi, ia sudah tercatat menerima belasan penghargaan tingkat nasional maupun internasional.

Dalam sambutannya usai menerima Bintang Mahaputera, Giwo menyebutnya sebagai "anugerah yang tidak terduga sebelumnya", sekaligus pengingat akan amanah para founding mother Kowani yang harus terus diperjuangkan. "Ini bukanlah akhir dari perjalanan kami, tetapi justru menjadi motivasi tambahan bagi kami untuk terus bekerja lebih keras," ujarnya kala itu.

Rentetan apresiasi itu berlanjut pada 2025, ketika Giwo dinobatkan sebagai penerima Kartini Award 2025 untuk kategori Inspiring and Empowering Women — pengakuan atas konsistensinya menginspirasi dan memberdayakan perempuan Indonesia lintas generasi, sekaligus meneguhkan posisinya sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh di Tanah Air.

Giwo Rubianto Wiyogo meraih Kartini Award 2025
Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd., meraih Kartini Award 2025 kategori Inspiring and Empowering Women. Sumber: innews.co.id

Masih di tahun yang sama, sebagai Ketua pertama Komisi Perlindungan Anak Indonesia periode 2004–2007, Giwo turut menerima Anugerah KPAI 2025 — penghargaan yang diberikan lembaga tersebut kepada para tokoh yang dinilai berjasa dalam meletakkan fondasi dan menggerakkan perjuangan perlindungan anak di Indonesia.

Dr. Giwo Rubianto Wiyogo menerima Anugerah KPAI 2025
Dr. Giwo Rubianto Wiyogo menerima Anugerah KPAI 2025. (Foto: Humas KPAI)

Estafet Kepemimpinan Kowani, Bukan Titik Henti


Desember 2024 menjadi penanda babak baru. Dalam Kongres XXVI Kowani, tongkat kepemimpinan resmi berpindah ke Nannie Hadi Tjahjanto sebagai Ketua Umum periode 2024–2029, dengan Tantri Dyah Kiranadewi sebagai Sekretaris Jenderal. Giwo, yang hadir dalam kongres tersebut, menyampaikan harapannya agar program-program yang telah dirintis selama dua periode kepemimpinannya — mulai dari isu stunting, kesetaraan gender, hingga penghapusan perkawinan anak — terus berlanjut dan bahkan ditingkatkan oleh kepengurusan baru.

Serah terima jabatan Ketua Umum Kowani dari Giwo Rubianto Wiyogo kepada Nannie Hadi Tjahjanto
Serah terima jabatan Ketua Umum Kowani dari Giwo Rubianto Wiyogo kepada Nannie Hadi Tjahjanto.

Purnatugas dari kursi Ketua Umum Kowani bukan berarti Giwo berhenti bergerak. Ia tetap aktif memimpin Pita Putih Indonesia dan Gerakan Wanita Sejahtera, menjabat Presiden BPW Indonesia sekaligus Wakil Presiden ICW, kerap tampil sebagai pembicara dan narasumber dalam berbagai forum pemberdayaan perempuan nasional maupun internasional. Pada 7 September 2025, misalnya, ia memimpin audiensi BPW Indonesia dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si., sebagai langkah memperkuat kemitraan strategis bagi kemajuan perempuan Indonesia.

Audiensi BPW Indonesia dengan Menteri PPPA RI
Dr. Ir. Hj. Giwo Rubianto, M.Pd., memimpin audiensi BPW Indonesia dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Dra. Hj. Arifatul Choiri Fauzi, M.Si., sebagai langkah memperkuat kemitraan strategis bagi kemajuan perempuan Indonesia. Sumber: Gatranews.id

Menabur Benih Perubahan Lewat Anugerah Srikandi Indonesia


Pada Senin malam, 22 Desember 2025 — bertepatan dengan peringatan Hari Ibu ke-97 — Kompas TV menggelar malam Anugerah Srikandi Indonesia 2025 di Studio 1 KompasTV, Jakarta. Dalam kapasitasnya sebagai Presiden BPW Indonesia, Giwo dinobatkan sebagai penerima kategori Srikandi Penggerak Sosial, berdampingan dengan sejumlah tokoh perempuan nasional lain seperti GKR Hemas, Siti Hediati Soeharto, Retno Marsudi, Susi Pudjiastuti, Alissa Wahid, dan Monica Tanuhandaru.

Presiden BPW Indonesia, Giwo Rubianto, dianugerahi Anugerah Srikandi Indonesia
Presiden BPW Indonesia, Giwo Rubianto, dianugerahi Anugerah Srikandi Indonesia.

Menerima penghargaan itu, Giwo mengaku tak menyangka namanya masuk dalam daftar penerima. Ia menegaskan bahwa lebih dari tiga dekade kiprahnya di berbagai organisasi merupakan ikhtiar pribadi untuk merawat cita-cita luhur para pendiri bangsa, sekaligus melanjutkan spirit Kongres Perempuan Indonesia 1928. "Hal sekecil apa pun yang bisa dilakukan, pasti akan bermanfaat selama dijalani dengan tulus dan ikhlas," ujarnya, sembari mendedikasikan penghargaan tersebut bagi seluruh perempuan Indonesia yang masih terus berjuang di lapangan untuk meningkatkan martabat sesamanya.

Di hari yang sama, Giwo juga tampil dalam dialog interaktif bertema "Perempuan Berdaya dan Berkarya" — mengikuti tema nasional Hari Ibu ke-97 tahun 2025 — yang disiarkan RRI Programa 3, menegaskan bahwa Hari Ibu di Indonesia berakar dari Kongres Perempuan Indonesia 1928 di Yogyakarta dan perlu terus diluruskan agar tidak tereduksi menjadi seremoni emosional tahunan semata.

Warisan dalam Sebuah Buku


Perjalanan panjang itu kini turut terekam dalam buku biografi resmi berjudul Giwo Rubianto Wiyogo: Warisan untuk Generasi, ditulis oleh Yusuf Susilo Hartono, Willy Hangguman, dan Mayang Sari, diterbitkan Penerbit Buku Kompas dengan kata pengantar dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak periode 2024–2029, Arifatul Choiri Fauzi. Buku setebal 202 halaman ini memotret perjalanan hidup Giwo yang memadukan pengalaman bisnis, kontribusi di organisasi perempuan, dan ketulusan membangun keluarga, sekaligus mengangkat kembali istilah "Ibu Bangsa" — sebutan yang pertama kali muncul dalam Kongres Perempuan Indonesia II tahun 1935 di Jakarta.

Tetap Bergerak di 2026


Memasuki 2026, semangat Giwo belum surut. Pada awal Maret, bersama keluarga dan Majelis Ta'lim Bumi Sakinah, ia menggelar acara khataman Al-Qur'an 30 juz sekaligus santunan anak yatim di Jakarta, berbagi pengalaman spiritualnya menunaikan ibadah umrah sebagai refleksi bagi para jemaah. Pada 6 April 2026, dalam kapasitasnya sebagai Presiden BPW Indonesia, ia melantik Irna Narulita sebagai Presiden BPW Indonesia Klub Provinsi Banten periode 2026–2028 di Pendopo Gubernur Banten, seraya mendorong penguatan literasi digital dan kecerdasan buatan (AI) bagi pelaku UMKM perempuan.

Pada akhir April, ia hadir sebagai Dewan Penyantun dalam Pengukuhan dan Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) periode 2026–2030, mendorong almamaternya menjadi wadah yang lebih inklusif dan progresif bagi masyarakat luas.

Kiprahnya melestarikan budaya turut ia tunjukkan pada Jumat, 26 Juni 2026, ketika ia hadir sebagai tamu kehormatan dalam Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) pertama Komunitas Awi Warisan Budaya Indonesia (KAWI) di Lume Coffee, Jakarta Selatan. Dalam acara tersebut, Giwo turut menerima plakat penghargaan atas dukungannya terhadap pelestarian warisan budaya bambu Indonesia.

Giwo Rubianto Wiyogo menerima plakat penghargaan HUT ke-1 KAWI
Giwo Rubianto (kedua dari kanan) menerima plakat penghargaan pada acara Tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Komunitas Awi Warisan Budaya Indonesia (KAWI) di Lume Coffee, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026). Sumber: RRI

Warisan yang Terus Bergerak


Dari panggung peragaan busana dan gelar Putri Ayu 1981, bangku arsitektur Trisakti, ruang sidang doktoral di UNJ, hingga podium PBB di New York dan kursi wakil presiden organisasi perempuan tertua di dunia — perjalanan Giwo Rubianto Wiyogo adalah potret bagaimana kepedulian personal bisa tumbuh menjadi gerakan kolektif berskala bangsa, bahkan dunia. Ia membuktikan bahwa peran sebagai istri dan ibu dari empat putra tak pernah menjadi penghalang, melainkan justru menjadi sumber energi bagi perjuangan yang jauh lebih besar: memastikan perempuan dan anak Indonesia — para "Ibu Bangsa" masa depan — mendapat tempat yang layak, baik di rumah maupun di panggung dunia.

Ringkasan Data Kunci
Nama lengkapDr. Ir. Hj. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd. (nama lahir: Sri Woerjaningsih)
LahirBandung, Jawa Barat, 8 Mei 1962
SuamiIr. Rubianto Wiyogo
PutraAto Wurianto, Agi Wibianto, Adito Wirbianto, Ardi Amandianto
PendidikanS1 Tata Busana (IKIP Jakarta/UNJ, 1985) · S1 Arsitektur Lansekap (Universitas Trisakti, 1989) · S2 & S3 Manajemen Pendidikan (UNJ, 2009 & 2014)
BisnisPendiri bersama PT Bumi Satu Group
Jabatan bersejarahKetua KPAI pertama (2004–2007); Ketua Umum Kowani (2014–2019, 2019–2024)
Jabatan internasionalVice President International Council of Women (sejak Mei 2022); Kepala Delegasi Indonesia W20 (2022)
Jabatan terkiniPresiden BPW Indonesia · Ketua Umum GWS · Ketua Umum Pita Putih Indonesia
Penghargaan negaraBintang Mahaputera Nararya (14 Agustus 2024) · Kartini Award 2025 kategori Inspiring and Empowering Women · Anugerah KPAI 2025 · Anugerah Srikandi Indonesia 2025 kategori Srikandi Penggerak Sosial (22 Desember 2025)
Buku biografiGiwo Rubianto Wiyogo: Warisan untuk Generasi (Penerbit Buku Kompas, 2025)
Artikel ini disusun berdasarkan penelusuran menyeluruh atas pemberitaan media massa nasional (Antara News, Detik, Media Indonesia, Kompas TV, TVRI News, Wartakota Tribunnews, RRI.co.id, Rakyat Merdeka/RM.id, JPNN, Tempo, The Jakarta Post, Radar Banten, Poskota, Republika, Tagar.id, Kabari News, Mens Obsession, Tokoh.id, Penaberita.id, Possore.id), situs resmi organisasi (Kowani, International Council of Women/ICW-CIF, Penerbit Buku Kompas), serta kanal resmi dan media sosial Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd. Data diperbarui terakhir pada 18 Juli 2026.