Giwo Rubianto Online

Rahasia 41 Tahun Giwo Rubianto: Tentang Cinta, Rumah, dan Energi yang Tak Pernah Padam

Dunia pergerakan perempuan kita adalah dunia yang berisik. Isinya adalah derap langkah perubahan, debat kebijakan, hingga diplomasi yang menyita waktu dan energi. Namun, di tengah riuhnya panggung pengabdian itu, Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo baru saja mengajak kita berhenti sejenak untuk melihat satu hal yang sunyi namun sangat bertenaga: Ketahanan hati.

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo bersama pengurus BPW Indonesia saat perayaan ulang tahun pernikahan ke-41, menunjukkan momen kehangatan dan ketahanan keluarga tokoh perempuan Indonesia.

Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo bersama pengurus BPW Indonesia saat perayaan ulang tahun pernikahan ke-41, menunjukkan momen kehangatan dan ketahanan keluarga tokoh perempuan Indonesia.

Lewat sebuah unggahan di laman Instagramnya (@giworubiantoofficial), Ibu Giwo membagikan momen syukur atas 41 tahun perjalanan pernikahannya. Foto itu sederhana—sebuah kejutan manis dari rekan-rekan BPW Indonesia—namun pesannya sangat dalam.

“Semoga kebersamaan ini selalu terjaga, selamanya,” tulisnya.

Bagi saya, dan mungkin bagi Anda yang lama bergerak di isu gender, angka 41 ini bukan sekadar statistik. Ini adalah sebuah “kuliah kehidupan” tentang bagaimana seorang perempuan tangguh merawat akarnya.

Diplomasi di Meja Makan

Kita mengenal Ibu Giwo sebagai sosok yang energinya seolah tak ada batasnya. Kita ingat betul bagaimana beliau memimpin Kowani, menembus ruang-ruang internasional di ICW, hingga urusan perlindungan anak. Namun, melihat harmoni beliau bersama sang suami, Ir. Rubianto Wiyogo, kita tersadar: kekuatan besar beliau di luar rumah justru bersumber dari ketenangan di dalam rumah.

Beliau mempraktikkan apa yang sering kita diskusikan sebagai “Kemitraan Strategis” dalam rumah tangga. Di era di mana banyak orang merasa harus memilih antara karier atau keluarga, Ibu Giwo membuktikan bahwa keduanya bisa tumbuh bersama. Beliau menunjukkan bahwa menjadi perempuan berdaya bukan berarti berjalan sendirian, melainkan memiliki “teman perjalanan” yang saling menguatkan selama empat dekade lebih.

Legasi yang Tak Lekang oleh Jabatan

Ada satu hal yang membuat hati saya hangat saat membaca ceritanya. Kejutan itu datang dari rekan-rekan organisasi di saat Ibu Giwo sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum Kowani.

Dalam dunia jurnalisme dan politik, kita tahu jabatan punya masa kedaluwarsa. Tapi kasih sayang? Itu tidak punya tanggal akhir. Fakta bahwa beliau tetap dicintai dan didoakan sehangat itu membuktikan bahwa beliau memimpin dengan hati, bukan sekadar instruksi. Beliau telah bertransformasi dari seorang pemimpin struktural menjadi sosok “Ibu Bangsa” yang kehadirannya selalu dinanti.

Tempat Kita Berlabuh

Membaca doa beliau agar kebersamaan itu “terjaga selamanya,” saya merasa itu adalah doa kita semua. Di ujung hari yang melelahkan setelah memperjuangkan hak-hak perempuan, kita semua butuh satu tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri, diterima apa adanya, dan dicintai tanpa syarat.

Selamat ulang tahun pernikahan ke-41, Ibu Giwo Rubianto. Terima kasih telah menunjukkan kepada kami para aktivis muda dan senior, bahwa setinggi apa pun kita terbang di angkasa pengabdian, kita selalu butuh rumah yang hangat untuk mendarat.

Karena pada akhirnya, perjuangan untuk dunia yang lebih baik selalu dimulai dari kebahagiaan di dalam rumah sendiri (redaksi)

https://wp.giwo-rubianto.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*