Ramadhan dan Kehangatan Keluarga: Pelajaran Berharga dari Momen Sederhana Ibu Giwo Rubianto
Bulan Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat tali kasih dengan orang-orang terkasih. Di tengah kesibukan yang padat sebagai tokoh organisasi dan aktivis perempuan, Ibu Giwo Rubianto Wiyogo mengingatkan kita semua bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan.
Baru-baru ini, melalui akun Instagram resminya (@giworubiantoofficial), Ibu Giwo membagikan potret kesehariannya yang menyentuh hati. Beliau mengunggah momen saat berbuka puasa bersama cucu tercinta, dilanjutkan dengan meluangkan waktu sejenak untuk bermain bersama.
“Berbuka puasa bersama cucu, lalu menyempatkan waktu untuk bermain. Capeknya hilang, hati jadi hangat. Ramadhan terasa lebih indah saat bisa menikmati momen sederhana seperti ini.”
Menemukan ‘Obat’ Lelah dalam Kebersamaan
Ungkapan tersebut mencerminkan sisi humanis seorang Giwo Rubianto. Baginya, interaksi dengan cucu adalah “booster” energi yang luar biasa. Setelah seharian penuh beraktivitas, tawa dan celoteh sang cucu menjadi obat mujarab yang mampu menghapus rasa lelah.
Momen ini memberikan kita pesan penting: Keluarga adalah pelabuhan pulang. Di tengah hiruk-pikuk dunia profesional, menjaga kedekatan antar generasi (intergenerational bonding) adalah kunci kesehatan mental dan kebahagiaan batin.
Ramadhan: Waktu untuk Memperlambat Tempo
Seringkali kita terjebak dalam rutinitas yang serba cepat. Namun, Ramadhan hadir untuk mengajak kita “memperlambat tempo” dan lebih mensyukuri apa yang kita miliki.
Apa yang dibagikan Ibu Giwo adalah pengingat bagi kita semua, terutama para perempuan yang memiliki peran ganda, bahwa menyisihkan waktu berkualitas (quality time) untuk keluarga tidak perlu menunggu waktu luang, melainkan harus diciptakan.
Pesan utama dari momen ini:
-
Kehangatan Hati: Kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar, tapi dari hati yang hangat saat bersama keluarga.
-
Kualitas Momen: Kebersamaan saat berbuka puasa memiliki nilai spiritual dan emosional yang mendalam.
-
Keseimbangan Hidup: Pentingnya menjaga keseimbangan antara pengabdian masyarakat dan keharmonisan rumah tangga.
Semoga di bulan suci ini, kita semua bisa menemukan “momen sederhana” kita sendiri yang membuat Ramadhan terasa lebih indah, sebagaimana yang dirasakan oleh Ibu Giwo Rubianto.