Memaknai Cinta sebagai Pilihan untuk Bertahan
Sering kali kita terjebak dalam estetika asmara yang dangkal—surat cinta yang rapi, janji yang melambung, atau unggahan foto dengan takarir manis. Namun, Dr. Ir. Giwo Rubianto mengingatkan kita pada sebuah kebenaran yang lebih sunyi namun kokoh: bahwa cinta sejati bukanlah sebuah pertunjukan di bawah lampu sorot, melainkan sebuah aksi bertahan di tengah badai.

Cinta Bukan Sekadar Gema Janji
Banyak hubungan karam bukan karena kurangnya kata-kata indah, melainkan karena ketiadaan daya tahan saat kata-kata itu diuji oleh realita. Seperti yang diungkapkan Dr. Giwo, cinta sejati melampaui manisnya lisan. Ia adalah komitmen yang baru benar-benar “berbunyi” ketika dunia mulai berhenti bertepuk tangan untuk kita. Saat keadaan berbalik memunggungi, di sanalah definisi “kita” dipertaruhkan.
Saat Tawa Menjadi Barang Mewah
Ada fase dalam setiap perjalanan panjang di mana tawa mulai jarang terdengar, digantikan oleh sunyi yang lelah atau salah paham yang menyesakkan dada. Dr. Giwo menyoroti realita ini secara jujur: cinta yang nyata justru hadir saat air mata mengambil alih ruang tamu kita. Di titik ini, cinta bukan lagi soal mencari kesenangan, melainkan tentang siapa yang tetap berdiri, menjadi tiang penyangga saat atap kehidupan terasa ingin runtuh.
Keputusan untuk Tetap Bersama
Pada akhirnya, kekuatan terbesar dari kutipan ini terletak pada kata “memilih”. Bertahan bukan karena kebetulan, dan tetap bersama bukan karena keadaan yang memaksa. Cinta adalah pilihan sadar setiap pagi untuk tetap saling menopang, meski kaki sudah gemetar dan jalan di depan masih mendaki.
Cinta sejati tidak butuh validasi dunia; ia hanya butuh dua orang yang sepakat untuk tidak saling melepaskan, tepat saat segalanya terasa ingin lepas.
sumber: https://www.instagram.com/p/DWa2bD5j8k8/